Drama 120 Menit di Rabat: Senegal Amankan Gelar AFCON Kedua Setelah Tekuk Maroko

Senegal Pertahankan Takhta, Maroko Meratapi Kegagalan Penalti di Final AFCON

RABAT – Tim nasional Senegal berhasil mengukuhkan diri sebagai kekuatan utama sepak bola Benua Hitam setelah menumbangkan Maroko di partai final Piala Afrika (AFCON). Lewat drama 120 menit yang menguras emosi, skuad asuhan Pape Bouna Thiaw sukses meraih gelar juara untuk kedua kalinya dalam sejarah mereka.

Pertandingan yang digelar di Stadion Prince Moulay Abdellah ini akan dikenang bukan hanya karena kualitas permainannya, tetapi juga karena drama luar biasa yang terjadi di menit-menit akhir waktu normal.

Momen Penentu: Penalti yang Gagal Saat skor masih imbang kacamata dan laga tampak akan berakhir, Maroko mendapatkan peluang emas untuk mengunci gelar juara. Wasit Jean-Jacques Ndala menunjuk titik putih setelah tinjauan VAR mengonfirmasi pelanggaran terhadap Brahim Diaz. Namun, insiden protes keras dari pemain Senegal yang sempat menghentikan laga selama hampir 20 menit tampaknya merusak fokus tuan rumah.

Brahim Diaz, yang menjadi tumpuan harapan publik Maroko, melepaskan tendangan ‘Panenka’ yang terlalu lemah, sehingga dengan mudah diamankan oleh kiper Senegal. Kegagalan ini menjadi titik balik mental bagi kedua tim saat memasuki babak tambahan.

Gol Sensasional Pape Gueye Di babak perpanjangan waktu, Senegal menunjukkan mentalitas juara mereka. Melalui skema serangan yang rapi, Pape Gueye melepaskan tendangan menakjubkan yang merobek jala Maroko. Gol tersebut terbukti menjadi satu-satunya pembeda dalam laga yang penuh intensitas tinggi ini.

Pelatih Maroko, Walid Regragui, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya pasca-pertandingan. Ia menyebut insiden protes pemain Senegal sebagai hal yang memalukan bagi citra sepak bola Afrika, namun di sisi lain mengakui bahwa timnya kehilangan momentum emas.

“Sepak bola terkadang kejam. Penalti di detik terakhir itu seharusnya bisa memenangkan gelar bagi kami, tapi kami melewatkannya. Sekarang kami harus bangkit dan menatap Piala Dunia,” ujar Regragui dengan lesu.

Sejarah bagi Senegal Bagi Senegal, kemenangan ini merupakan bukti konsistensi mereka di level tertinggi sepak bola Afrika. Meski diwarnai kontroversi akibat aksi protes dan cemoohan dari penonton tuan rumah, para pemain Lions of Teranga tetap mampu menjaga ketenangan hingga peluit panjang berbunyi.

Sementara bagi Maroko, kekalahan ini memperpanjang puasa gelar kontinental mereka yang sudah berlangsung selama setengah abad. Kini, “Singa Atlas” harus segera memulihkan kondisi fisik dan mental mereka, terutama dengan kabar cederanya striker Hamza Igamane, sebelum bertolak ke Amerika Utara untuk ajang Piala Dunia pada Juni mendatang.

Leave a Reply